Dirjen Kebudayaan Kemdikbud Hilmar Farid: Mengatasi Konten Negatif, Kuncinya Literasi Media

Jakarta (IndonesiaMandiri) – Untuk mengatasi konten negatif yang beredar di media, tak bisa lain kuncinya adalah literasi media. Kalau cuma memberangus akun negatif, percuma saja. Karena akan terus bermunculan akun-akun negatif. Demikian ditegaskan Dirjen Kebudayaan Kemeterian Pendidikan dan Kebudayaan/Kemdikbud Hilmar Farid, Ph.D, dalam sesi diskusi panel di acara Peringatan International Youth Day 2017, Jumat (25/8).
Acara yang berlangsung di Kemendikbud Jakarta ini, dihadiri sekitar 300an siswa, mahasiswa, dan komunitas pemuda dari beberapa daerah di Indonesia.
Literasi media adalah pengetahuan kita tentang apa dan bagaimana media itu berfungsi, beserta dampak positik maupun negatif yang bisa ditimbulkan. Hilmar Farid mencontohkan, berkat literasi media, ia tidak gampang tertipu ketika berkali-kali menerima SMS berisi pesan “mama minta pulsa” atau tipuan-tipuan lain dengan kedok “menang undian.”
Tetapi nyatanya masih ada saja yang tertipu oleh SMS seperti itu. Bahkan di level seorang profesor doktor. Hal ini karena mereka sudah menggunakan media, tetapi tidak memiliki kemampuan literasi media.
Hilmar Farid juga menyatakan, dia adalah dirjen pertama yang bukan pegawai negeri sipil (PNS). Tadinya memang semua dirjen berasal dari PNS. “Tetapi berkat ada peraturan baru, saya adalah dirjen pertama yang tidak berasal dari PNS,” ujar mantan aktivis mahasiswa itu.
Acara yang diselenggarakan oleh Desk Pemuda KNIU (Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO) ini dibuka oleh Ketua Harian KNIU Prof. Dr. Arief Rachman, M.Pd. Hadir juga dan memberi sambutan kunci, Direktur Kantor UNESCO Indonesia, Prof. Dr. Shahbaz Khan.
Sesudah pembukaan, ada acara diskusi panel yang menghadirkan Dirjen Kebudayaan Kemedikbud Hilmar Farid, Ph.D., Direktur AIDA (Aliansi Damai Indonesia) Hasibullah Satrawi, Program Director for Research and Development, Indonesian MAB Programme Dr. Hari Nugroho, dan youth infuencer Tasya Kamila.
Sesudah diskusi panel, para peserta yang mewakili komunitasnya masing-masing akan dibagi menjadi beberapa kelompok. Ini didasari oleh Fokus UNESCO dalam bidang pendidikan, sains, budaya, dan komunikasi informasi. Setiap kelompok harus membahas peran, tantangan, dan solusi pemuda dalam bidang kegiatan UNESCO tersebut.
Peserta diskusi diharapkan menghasilkan 13 butir rencana aksi. Butir-butir itu akan d1ipresentasikan di The 10th UNESCO Youth Forum pada 25-26 Oktober 2017 di Paris, Perancis. Delegasi Indonesia pada forum internasional itu diwakili dua pemuda, yaitu Satriya Ade Nugroho dan Naura Nabila Haryanto (sa/ma).
Foto: abri